Warungberita.com – Amerika Serikat semakin terang-terangan membuka kemungkinan penggunaan kekuatan militer untuk menguasai Greenland, wilayah otonom yang saat ini berada di bawah perlindungan Kerajaan Denmark. Wacana tersebut segera memicu reaksi keras dari sejumlah negara Eropa serta Kanada, yang menilai langkah Washington sebagai ancaman serius terhadap stabilitas kawasan Arktik dan soliditas aliansi Barat.
Gedung Putih pada Selasa (6/1) menyampaikan bahwa Presiden Amerika Serikat Donald Trump memandang penguasaan Greenland sebagai bagian dari prioritas keamanan nasional. Wilayah tersebut dianggap strategis untuk menghadang potensi ancaman dari kekuatan rival di kawasan Arktik yang semakin diperebutkan.
“Presiden dan tim tengah membahas berbagai opsi untuk mencapai tujuan kebijakan luar negeri yang penting ini, dan tentu saja, penggunaan militer AS selalu menjadi opsi yang berada dalam kewenangan panglima tertinggi,” demikian pernyataan Gedung Putih, seperti dikutip Al Jazeera.
Rencana Amerika Serikat untuk mengambil alih Greenland dari Denmark, yang juga merupakan sesama anggota NATO, dinilai berpotensi mengguncang fondasi aliansi pertahanan Atlantik Utara. Langkah tersebut juga diperkirakan akan memperlebar jurang hubungan antara Presiden Trump dan para pemimpin Eropa yang selama ini menekankan pentingnya kerja sama multilateral.
Pernyataan dari Gedung Putih itu muncul bersamaan dengan sikap tegas sejumlah pemimpin Eropa. Presiden dan perdana menteri dari Prancis, Jerman, Italia, Polandia, Spanyol, serta Inggris, bersama Perdana Menteri Denmark Mette Frederiksen, mengeluarkan pernyataan bersama yang menegaskan bahwa Greenland merupakan hak rakyatnya sendiri.
“Hanya Denmark dan Greenland, dan mereka yang berwenang, untuk memutuskan hal-hal yang menyangkut Denmark dan Greenland,” tegas pernyataan tersebut.
Dukungan serupa juga datang dari Kanada. Perdana Menteri Mark Carney menyatakan solidaritasnya dengan Denmark dan Greenland, sekaligus mengumumkan rencana kunjungan Gubernur Jenderal Mary Simon dan Menteri Luar Negeri Anita Anand ke Greenland pada awal bulan depan.
Sementara itu, para menteri luar negeri negara-negara Nordik—Finlandia, Islandia, Norwegia, Swedia, dan Denmark—menekankan hak penuh Greenland untuk menentukan masa depannya sendiri. Mereka juga menyampaikan bahwa investasi dalam keamanan kawasan Arktik telah ditingkatkan dan membuka peluang kerja sama lebih lanjut melalui konsultasi dengan Amerika Serikat serta sekutu NATO lainnya.
Perdana Menteri Polandia Donald Tusk mengingatkan bahwa ancaman terhadap sesama anggota NATO dapat merusak kredibilitas aliansi tersebut. “Tidak ada anggota yang boleh menyerang atau mengancam anggota lain dari Organisasi Pakta Atlantik Utara. Jika tidak, NATO akan kehilangan maknanya,” ujarnya.
Di sisi lain, Perdana Menteri Greenland Jens-Frederik Nielsen menyambut baik dukungan para pemimpin Eropa dan kembali menyerukan agar Amerika Serikat mengedepankan “dialog yang saling menghormati”.
Denmark sendiri membantah keras pernyataan Trump yang menyebut negara itu tidak mampu menjaga keamanan Greenland. Menteri Luar Negeri Denmark Lars Lokke Rasmussen menegaskan, “Kami tidak sependapat dengan anggapan Greenland dipenuhi dengan investasi Tiongkok… atau ada kapal perang Tiongkok di sepanjang Greenland.”
Pemerintah Greenland juga telah meminta pertemuan dengan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio bersama Rasmussen untuk membahas perkembangan situasi tersebut. Namun demikian, penolakan dan tekanan diplomatik itu belum menghentikan ketertarikan Trump terhadap Greenland, yang sejatinya telah muncul sejak 2019 dan kembali menguat dengan alasan keamanan nasional serta rivalitas geopolitik global.
