Semarang – Meskipun arus mudik dan balik tahun ini mencatatkan rekor tertinggi sepanjang sejarah dengan lonjakan kendaraan mencapai lebih dari 14 persen pada puncak arus balik, Korps Lalu Lintas Polri berhasil menekan angka fatalitas kecelakaan secara signifikan. Pada Selasa dini hari pukul 24.00 WIB, Korlantas resmi mengakhiri Operasi Ketupat 2026, tetapi pengamanan jalan masih tetap dijaga melalui Kegiatan Rutin yang Ditingkatkan (KRYD).
Irjen Pol. Agus Suryonugroho, Kepala Korps Lalu Lintas Polri, menyampaikan bahwa evaluasi operasi menunjukkan penurunan jumlah korban meninggal dunia akibat kecelakaan mencapai 30,41 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Selain itu, total kejadian kecelakaan juga berkurang sebesar 5,31 persen. “Ini adalah hasil kerja keras bersama. Negara hadir, Polri hadir di jalan bukan hanya untuk mengatur, tetapi memastikan perjalanan ‘duta-duta mudik’ aman dan selamat sampai tujuan,” ujar Agus saat ditemui di Semarang, Jawa Tengah.
Data dari Korlantas memperlihatkan lonjakan mobilitas yang luar biasa pada tahun ini. Pada puncak arus mudik, volume kendaraan meningkat lebih dari 4 persen, sementara arus balik menunjukkan kenaikan lebih dari 14 persen. Meski penutupan operasi telah diumumkan, masih terdapat sekitar 36 persen dari pemudik, atau sekitar 1,2 juta kendaraan, yang belum kembali ke wilayah Jakarta dan sekitarnya. Sebagian besar pemudik ini masih berada di wilayah Trans Jawa, Jawa Barat, dan Trans Sumatera.
Untuk menghindari kemacetan akibat sisa arus balik, Polri tetap mengerahkan personel di lapangan dan memantau pergerakan kendaraan secara intensif melalui Command Center. Mengenai potensi lonjakan arus kedua yang diprediksi terjadi pada akhir pekan tanggal 28 dan 29 April, Korlantas telah menyiapkan skenario rekayasa lalu lintas one way gelombang kedua. Agus menjelaskan, “Jika pada tanggal 28 nanti parameter di Gerbang Tol Kalikangkung menunjukkan angka 3.900 hingga 4.000 kendaraan per jam secara berturut-turut, kemungkinan besar kami akan kembali memberlakukan one way.”
Keberhasilan pengelolaan arus mudik dan balik tahun ini tidak terlepas dari pemanfaatan teknologi digital seperti ETLE drone dan pengawasan CCTV yang presisi. Selain itu, penggunaan tol fungsional seperti Japek II Selatan dan jalur Bocimi efektif memecah kepadatan lalu lintas baik di jalan arteri maupun tol utama.
Irjen Agus juga mengajak masyarakat memanfaatkan kebijakan Work From Anywhere (WFA) yang telah ditetapkan pemerintah untuk mengurangi kepadatan di jalan tol pada akhir pekan. Ia mengimbau pengendara mengatur waktu perjalanan lebih awal atau menunda setelah puncak arus. “Apabila rest area sudah penuh, pengendara disarankan keluar ke jalan arteri untuk beristirahat atau menikmati kuliner di kabupaten sekitar, lalu kembali ke tol. Yang utama adalah konsentrasi dan keselamatan,” tutup Agus.
