Kepala Korps Lalu Lintas (Kakorlantas) Polri Irjen Pol Drs. Agus Suryonugroho, S.H., M.Hum., memaparkan kesiapan jajarannya dalam menghadapi lonjakan arus mudik dan balik Lebaran melalui berbagai skema rekayasa lalu lintas. Fokus pengamanan diarahkan pada jalur-jalur utama dengan tingkat kepadatan tinggi, seperti Trans Jawa, Sumatera, serta kawasan Bandung dan sekitarnya yang kerap menjadi tujuan favorit pemudik.
Dalam keterangannya, Kakorlantas Polri menegaskan bahwa setiap kebijakan rekayasa lalu lintas, termasuk penerapan contraflow dan one way, tidak dilakukan secara tiba-tiba. Seluruh keputusan diambil berdasarkan perhitungan teknis yang matang dan hasil koordinasi intensif dengan pengelola jalan tol.
“Ketika bicara mengeksekusi Contraflow dan One Way, ada parameter-parameter yang tentunya kami koordinasi dengan Jasa Marga, sehingga hitungan itulah menjadi putusan akan kita lakukan Contraflow satu lajur (atau) akan kita lakukan Contraflow dua lajur, dan akan kita buka ujungnya di KM 70 sampai KM 188 untuk melancarkan arus yang menuju ke Trans Jawa,” ujarnya.
Irjen Pol Agus menjelaskan bahwa evaluasi pelaksanaan Operasi Ketupat pada tahun sebelumnya menjadi fondasi utama dalam menyusun strategi pengamanan tahun ini. Selain itu, kebijakan pemerintah turut berperan besar dalam mengendalikan arus kendaraan, khususnya terkait pembatasan kendaraan sumbu tiga serta penerapan Work From Anywhere (WFA).
“Mengevaluasi operasi ketupat tahun lalu, negara harus hadir, sehingga kebijakan pemerintah salah satunya adalah SKB bagaimana mengatur kendaraan sumbu 3 boleh atau tidak boleh ini sangat mempengaruhi flow daripada lalin dan Pemerintah dengan cepat membuat kebijakan tentang work from anywhere,” tambahnya.
Untuk mendukung efektivitas pengelolaan lalu lintas, Korlantas Polri juga mengoptimalkan penggunaan teknologi. Sistem pemantauan berbasis digital disiapkan agar kondisi lalu lintas di berbagai titik dapat dipantau secara real time. Selain itu, kebijakan ganjil genap juga akan diterapkan pada waktu dan lokasi tertentu selama Operasi Ketupat berlangsung.
“Korlantas, kita sendiri akan memperlakukan ganjil genap, termasuk juga akan menghadirkan infrastruktur teknologi agar supaya baik di jalan tol, baik di arteri, termasuk di penyeberangan, terminal, bandara, kita bisa monitoring dalam satu genggaman. Itu sudah kita persiapkan,” ungkapnya.
Kakorlantas memastikan bahwa seluruh skenario darurat telah disiapkan guna mengantisipasi berbagai kemungkinan, termasuk bencana alam maupun lonjakan arus secara tiba-tiba. Pendirian Pos Pengamanan, Pos Pelayanan, dan Pos Terpadu menjadi bagian dari upaya memberikan rasa aman dan layanan maksimal bagi masyarakat.
“Menyiapkan emergency split apabila ada bencana rangkaian-rangkaian skenario itu sudah kita persiapkan, baik dari sisi rekasa lalu lintas, termasuk pendirian pos PAM, pos pelayanan, pos terpadu, ini sudah kita siapkan semuanya,” tegasnya.
Lebih lanjut, prioritas pengamanan arus mudik dan balik telah dipetakan berdasarkan wilayah asal dan tujuan pemudik. Meski risiko kepadatan tetap ada, khususnya di pelabuhan penyeberangan, Polri memastikan langkah antisipatif telah disiapkan.
“Ketika kita bicara arus mudik, kita utamakan yang menuju ke Trans Jawa, menuju Sumatera, dan ke Bandung,” ujarnya.
Sebagai penutup, Irjen Pol Agus menegaskan bahwa seluruh rekayasa lalu lintas, mulai dari alih arus hingga one way, merupakan bagian dari solusi untuk meminimalkan kemacetan saat puncak Lebaran.
“Sudah kita siapkan tata kelola manajemen lalu lintas, baik alih arus, baik contraflow, baik one way, ini bagian daripada solusi untuk menghindari kemacetan,” pungkasnya.
