Warungberita.com – Pemerintah China menyampaikan ucapan selamat kepada Kamboja atas tercapainya kesepakatan gencatan senjata dengan Thailand setelah konflik bersenjata di wilayah perbatasan kedua negara berlangsung selama berminggu-minggu dan menelan banyak korban jiwa. Kesepakatan ini dipandang sebagai langkah penting untuk meredakan ketegangan dan membuka jalan menuju stabilitas kawasan Asia Tenggara.
Gencatan senjata tersebut mulai berlaku pada Sabtu, 27 Desember 2025, siang waktu setempat. Dalam kesepakatan itu, kedua pihak sepakat menghentikan seluruh bentuk penggunaan senjata serta serangan terhadap warga sipil, objek dan infrastruktur sipil, maupun sasaran militer. Perjanjian ini berlaku secara menyeluruh tanpa pengecualian wilayah, sebagai upaya menciptakan penghentian konflik yang komprehensif.
Seiring dengan diberlakukannya gencatan senjata, para pejabat tinggi dari China, Kamboja, dan Thailand bersiap menggelar pertemuan dua hari di provinsi Yunnan, wilayah barat daya China. Pertemuan tersebut dijadwalkan berlangsung pada Minggu (28/12/2025) dan Senin (29/12/2025), dengan agenda utama membahas situasi perbatasan pascakonflik serta langkah-langkah lanjutan untuk menjaga stabilitas.
Menteri Luar Negeri China, Wang Yi, dalam pertemuan dengan Menteri Luar Negeri Kamboja, Prak Sokhonn, menyebut gencatan senjata ini sebagai “langkah penting menuju pemulihan perdamaian” dan menegaskan bahwa kesepakatan tersebut “sejalan dengan harapan bersama negara-negara di kawasan tersebut.” Pernyataan ini menegaskan posisi China yang mendorong penyelesaian damai atas konflik regional.
Menurut kantor berita resmi Xinhua, Wang Yi menekankan bahwa Kamboja dan Thailand perlu “mendorong gencatan senjata yang lengkap dan langgeng, melanjutkan pertukaran normal, dan membangun kembali kepercayaan bersama.” Ia juga menambahkan bahwa pertemuan di Yunnan harus dimanfaatkan secara maksimal oleh para diplomat dan pejabat militer kedua negara untuk “berkomunikasi secara fleksibel dan meningkatkan pemahaman.”
Selain peran diplomatik, China juga menyatakan kesiapan memberikan dukungan kemanusiaan. “China bersedia memberikan bantuan kemanusiaan kepada Kamboja untuk pemukiman kembali para pengungsi di wilayah perbatasan,” ujar Wang Yi, merespons dampak konflik yang memaksa jutaan warga meninggalkan tempat tinggal mereka.
Diberitakan South China Morning Post (SCMP), China juga menyatakan kesiapannya membantu pengamat dari Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) dalam memantau pelaksanaan gencatan senjata tersebut. “China mendukung ASEAN dalam memainkan peran yang semestinya dan siap membantu misi pengamat ASEAN dalam memantau gencatan senjata,” kata Wang Yi dalam pembicaraan dengan Prak Sokhonn di Yuxi, Yunnan.
Tim pengamat ASEAN akan mengawasi implementasi kesepakatan yang mengakhiri pertempuran selama sekitar tiga minggu, yang dilaporkan menewaskan sedikitnya 47 orang dan menyebabkan lebih dari satu juta warga mengungsi. Pertemuan di Yunnan juga dihadiri oleh perwakilan militer dari ketiga negara sebagai bagian dari pendekatan terpadu sipil dan pertahanan.
Sementara itu, Kementerian Luar Negeri Kamboja menyampaikan apresiasi kepada Beijing atas “peran aktif dan konstruktifnya” dalam mendukung tercapainya gencatan senjata. Phnom Penh juga berkomitmen untuk bekerja sama dengan Bangkok dalam menerapkan perjanjian tersebut secara penuh serta memperkuat kepercayaan antara kedua negara dan angkatan bersenjata masing-masing.
